Skip to Content
Return to Navigation

Learning From The Best: Four Fellows Receive Clinical Diagnosis Training At Top Research Laboratory

HSP recently launched a Clinical Diagnostic Fellowship program to mentor select laboratory professionals from Indonesia on best practices for timely laboratory diagnosis and biorisk management of melioidosis. An infectious disease caused by the bacterium Burkholderia pseudomallei found in soil and water, melioidosis is endemic to South East Asia. It is currently the rainy season in Thailand and suspected cases are coming in to the hospital, providing unique learning opportunities for each of our four Fellows.

The following are real-time reports from our four fellows on site:


Dr. Patricia Monica Tauran

“I was selected as a Health Security Partners (HSP) Clinical Diagnostic Fellow for Melioidosis, and my mentoring period is from May 10-June 2, 2018 in Thailand.

It is such a great opportunity to learn about melioidosis from the experts at Mahidol Oxford Tropical Medicine Research Unit (MORU) laboratory in Sappasithiprasong Hospital, Ubon Ratchathani in Thailand. Currently, MORU Ubon Ratchathani is the leading unit in the world for clinical melioidosis research, and holds the largest collection of bacterial isolates in the world.

During the first week of my fellowship program, I was trained to properly isolate and identify B. pseudomallei by the head of the laboratory, Gumphol Wongsuvan. I practiced identifying the melioidosis pathogen, and learned how to properly store, transport, and discard the specimen.

The most important lesson I have learned during this training experience so far is that a laboratory does not need to be fancy or sophisticated to properly diagnose pathogens. Standard laboratories are very capable of producing top quality results, which can then be leveraged by policymakers. It is important, however, that each laboratory professional follows standardized quality control procedures and proper biosafety and biosecurity practices.”

“Saya terpilih sebagai salah satu peserta pelatihan melioidosis dari Health Security Partners (HSP) yang diadakan di Thailand pada 10 Mei sampai dengan 2 Juni 2018.

Ini adalah kesempatan yang sangat langka karena saya dapat belajar mengenai melioidosis lansung dari pakarnya di laboratorium  Mahidol Oxford Tropical Medicine Research Unit (MORU) yang berada di Rumah Sakit Sappasithiprasong, Ubon Ratchathani. Saat ini, Ubon Ratchathani MORU adalah unit penelitian yang paling terkemuka di dunia dalam bidang penelitian klinis melioidosis dan memiliki koleksi bakteri penyebab melioidosis yang terbesar di dunia.

Pada minggu pertama pelatihan ini, saya diajar mengenai cara isolasi dan identifikasi B. pseudomallei oleh Gumphol Wongsuvan yang merupakan kepala laboratorium tersebut. Beliau menjelaskan mengenai perbedaan prosedur antara laboratorium penelitian dan laboratorium rutin dalam mendiagnosis melioidosis. Saya berlatih mengidentifikasi patogen penyebab meliodosis dengan metode sederhana yang juga bisa dilakukan di laboratorium yang masih menggunakan metode manual. Selain itu, saya juga belajar mengenai cara mengawetkan spesimen, mengirim spesimen dan mengelola limbah.

Pesan yang paling penting yang saya pelajari selama pelatihan ini adalah tidak perlu memiliki laboratorium mikrobiologi yang canggih atau memiliki teknologi yang terbaru untuk membantu menegakkan diagnosis atau untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas yang dapat mengadvokasi pembuat kebijakan, namun suatu laboratorium wajib menggunakan metode yang terstandarisasi dan memiliki kontrol atau jaminan kualitas yang baik.”


 

Dr. Pepy Dwi Endraswari

Dr. Siwipeni Irmawanti Rahayu

“I’m Pepy from DR. Soetomo Hospital, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia. I’m  one of the participants who was selected to join the melioidosis training at Sappasithiprasong Hospital in Ubon Ratchatani, Thailand, June 24 – July 14, 2018. I feel happy and very lucky to be selected as a participant of this training.

Sappasithiprasong Hospital is the largest hospital in the Province of North East Thailand, and it has a Melioidosis Laboratory that performs the diagnosis and research of B. pseudomallei.

I have benefited greatly from this training, as we have never found a case of melioidosis in my home  laboratory, which it is likely due to under-diagnosis. During this training, I have learned a lot about how to detect, isolate and identify B. pseudomallei from clinical samples and also from soil samples.

In addition, I also learned proper laboratory risk management to handle melioidosis samples, to make selective media for melioidosis isolation, as well as its quality control.

I was trained by the Head of the Melioidosis Laboratory at Sappasithiprasong Hospital, Mr. Gumphol Wongsuvan, a kind, highly experienced teacher and an expert in melioidosis.

Fortunately during the training, we found many cases of melioidosis from clinical specimens sent to this melioidosis laboratory, so we could practice how to detect B. pseudomallei from clinical specimens. From this training I realized that detection and identification of B. pseudomallei does not require a sophisticated tool, but it is very important for people working in the laboratory to have the knowledge and experience to do it.

Hopefully after this training I can increase my laboratory capacity in detecting melioidosis from the patients and do surveillance to detect B. pseudomallei from the environment.”

“Saya Pepy, salah satu peserta yang terpilih untuk mengikuti training Melioidosis di Rumah Sakit Sappasithiprasong di Ubon Ratchatan pada periode 24 Juni-14 Juli 2018. Saya bekerja di RSUD DR Soetomo/Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia. Saya merasa senang dan beruntung sekali terpilih menjadi peserta training ini.

Rumah Sakit Sappasithiprasong merupakan rumah sakit utama di Provinsi di northeast Thailand, di rumah sakit ini terdapat laboratorium khusus melioidosis yang melakukan diagnosis dan penelitian B. pseudomallei.

Saya mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan ini, karena selama ini kami belum pernah menemukan kasus melioidosis di laboratorium kami, dan hal tersebut kemungkinan terjadi karena underdiagnosis. Selama training ini saya mendapatkan banyak ilmu  bagaimana cara mendeteksi, mengisolasi dan mengidentifikasi B. pseudomallei dari sampel klinis dan juga dari sampel tanah.

Selain itu, saya juga belajar  bagaimana managemen biresiko laboratorium untuk menangani spesimen melioidosis, cara membuat media selektif untuk isolasi melioidosis, dan juga kontrol kualitasnya.

Saya dilatih oleh Kepala Laboratorium Melioidosis di Rumah sakit Sappasithiprasong, yaitu Mr. Gumphol Wongsuvan, beliau guru yang sangat berpengalaman dan pakar dalam melioidosis.

Beruntung sekali selama training, kami banyak menjumpai kasus melioidosis dari spesimen klinis yang dikirimkan ke laboratorium melioidosis ini, sehingga kami dapat praktek secara langsung untuk mendeteksi B. pseudomallei dari spesimen klinis. Dari pelatihan ini saya menyadari bahwa deteksi dan identifikasi B. pseudomallei tidak memerlukan alat canggih, namun sangat penting bagi orang yang bekerja di laboratorium untuk memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk mendeteksi bakteri tersebut.

Saya optimis setelah pelatihan ini saya dapat meningkatkan kapasitas laboratorium saya dalam mendiagnosis Melioidosis pada pasien dan juga dalam jangka panjang saya berharap dapat melakukan surveillance untuk mendeteksi B. pseudomallei dari lingkungan.”

“I was selected as one of two Fellows for the Health Security Partners (HSP) Clinical Diagnostic Fellowship for Melioidosis within the period of June 24th until July 14th, 2018. This fellowship program is conducted in Sappasithiprasong Hospital, Ubon Ratchathani in Thailand, specifically in Melioidosis Lab, handled by Mahidol Oxford Tropical Medicine Research Unit (MORU).

There is a limit to studying by ourselves. At a certain point, guidance is essential to tell us the right from the wrong, or to improve the right to be better. This is what I have experienced during my fellowship period. I have been trying to learn about melioidosis and isolate B. pseudomallei by myself in recent years, and I am very aware of my own limitations. That is why I am very thankful to finally have a mentor who can show me what to do.

These weeks have been very fulfilling. I have learned many things – more than I expected. I spent my first two weeks directly honing my knowledge and ability to isolate B. pseudomallei. This week, I learned to find B. pseudomallei from environmental samples, which is essential even after a diagnosis is made. Here, I realized that utilizing simple methods is more beneficial and approachable for many labs. It makes me think that, yes, we don’t need to complicate things using complicated methods to diagnose melioidosis, we just need to fully understand what we are doing and what to expect from the bacterial isolation process.

Now that I am in my last week of this fellowship, I have so many ideas and hopes inside my mind, waiting to be made real once I go back to my own hospital. Hopefully, in the near future, I will be able to promptly and accurately make the diagnosis of melioidosis, as well as give the right treatment for patients.”

“Saya terpilih sebagai satu dari dua fellow dalam program Health Security Partners (HSP) Clinical Diagnostic Fellow for Melioidosis pada periode 24 Juni – 14 Juli 2018. Program fellowship ini dilaksanakan di Sappasithiprasong Hospital, Ubon Ratchathani, Thailand, di Melioidosis Lab, yang dikelola oleh Mahidol Oxford Tropical Medicine Research Unit (MORU).

Belajar sendiri pasti memiliki batas. Pada satu titik, kita memerlukan bimbingan untuk menunjukkan pada kita tentang apa yang benar dan apa yang salah, atau untuk meningkatkan yang sudah benar menjadi lebih baik lagi. Hal inilah yang saya alami selama periode fellowship saya. Selama beberapa tahun terakhir, saya berusaha untuk mempelajari tentang melioidosis dan mengisolasi bakteri B. pseudomallei, dan saya sangat sadar atas keterbatasan saya. Oleh karena itu, saat akhirnya saya mendapatkan mentor yang menunjukkan pada saya apa yang harus dilakukan, saya sangat bersyukur.

Beberapa minggu ini adalah waktu yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya belajar banyak hal, lebih dari yang saya pernah bayangkan. Selama dua minggu pertama, saya mengasah pengetahuan dan kemampuan saya secara langsung dalam mengisolasi bakteri B. pseudomallei. Minggu ini, saya belajar untuk menemukan B. pseudomallei dari sampel lingkungan, yang merupakan proses penting sebagai kelanjutan setelah diagnosis melioidosis ditegakkan. Disini saya menyadari bahwa metode yang simpel lebih bermanfaat dan lebih dapat dilakukan oleh banyak laboratorium. Hal ini membuat saya berpikir, ya, kita tidak perlu mempersulit diri dengan menggunakan metode yang rumit dalam mendiagnosis melioidosis. Kita hanya perlu benar-benar memahami apa yang sedang kita lakukan dan apa yang kita harap akan temukan dari proses isolasi bakteri.

Saya telah menginjak minggu terakhir dari periode fellowship ini dan saya memiliki banyak sekali ide dan harapan yang menunggu untuk direalisasikan sekembalinya saya ke rumah sakit saya. Saya berharap bahwa dalam waktu dekat ini saya mampu dengan cepat dan akurat membuat diagnosis melioidosis, dan memberikan terapi yang tepat untuk pasien.”


Dr. Maryati Surya

“Hello, I am Maryati Surya. I am currently working at the Microbiology and Immunology Laboratory, Primate Research Center, Bogor Agricultural University, as a microbiologist. I am very grateful to be selected as one of the participants for the HSP Clinical Diagnostic Fellowship for Melioidosis in Indonesia. This is a big opportunity to have Melioidosis mentoring at the Microbiology Laboratory, Mahidol-Oxford Tropical Medicine Research Unit (MORU), Sappasithiprasong Hospital, Ubon Ratchatthani, Thailand.

The mentoring has been conducted by Gumphol Wongsuvan as a Microbiology Laboratory Manager of MORU.  He has many experiences with isolating and identifying Burkholderia pseudomallei causes of Melioidosis.  Training materials include preparation and quality control of media, isolation and identification from clinical and environmental (soil) samples, and proper biosafety and biosecurity B. pseudomallei management. After 2 weeks of mentoring, I realized that it is possible to develop a laboratory to handle B. pseudomallei at my institution. This can be conducted conventionally and does not require sophisticated equipment.

I believe through this fellowship that our center can provide better diagnostic tools for B. pseudomallei and also for other bacterials. I will be setting up the standard microbiology laboratory to help diagnose bacterial diseases in nonhuman primates and others animals.

I hope that together with the other fellows we can cooperate and build a stronger network for socializing and handling the case of melioidosis in Indonesia as a One Health program.”

“Helo, saya Maryati Surya. Saya bekerja di Pusat Studi Satwa Primata, Institut Pertanian Bogor pada bagian Laboratorium Mikrobiologi dan Imunologi sebagai mikrobiologis. Saya sangat bersyukur terpilih sebagai salah satu peserta dari  HSP Clinical Diagnostic Fellowship for Melioidosis – Indonesia.  Merupakan kesempatan besar mengikuti pelatihan  Melioidosis di Laboratorium Mikrobiologi Mahidol-Oxford Research Tropical Medicine Unit (MORU), Sappasithiprasong Hospital, Ubon Ratchatthani, Thailand.

Training dibimbing oleh Gumphol Wongsuvan (kepala laboratorium mikrobiologi MORU) yang mempunyai banyak pengalaman dalam mengidentifikasi Burkholderia pseudomallei penyebab melioidosis.  Materi yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi persiapan dan kontrol kualitas media, isolasi dan identifikasi dari sampel klinis dan lingkungan (tanah), tatalaksana biosafety dan biosecurity B. pseudomallei.  Setelah 2 minggu pelatihan,  saya berpikir  bahwa sangatlah memungkikan mengembangkan laboratorium yang menangani B. pseudomallei  di institusi saya, Hal ini dapat dilakukan secara konvensional dan tidak memerlukan peralatan yang canggih.

Saya yakin melalui training ini, pusat kami dapat memberikan pelayanan diagnostik yang baik untuk B. pseudomallei dan juga untuk bakteri lainnya. Saya akan mengembangkan laboratorium mikrobiologi standar yang dapat membantu mendiagnosa penyakit bakterial untuk satwa primata dan hewan lainnya.

Sebagai peserta training dari Pusat Studi Satwa Primata, saya berharap bersama dengan peserta lainnya dapat menjalin kerjasama dan membangun jaringan dalam mensosialisasikan dan menangani kasus melioidosis di Indonesia sebagai satu kesatuan program kesehatan.”

HSP is grateful to our partners at Mahidol Oxford Tropical Medicine Research Unit (MORU) for hosting the Fellows.

Share this article:

2 Comments on Learning From The Best: Four Fellows Receive Clinical Diagnosis Training At Top Research Laboratory

  1. David Dance

    May 24, 2018 at 11:18 pm | Reply

    Excellent initiative – simple measures can save lives. Keep the Fellows flowing!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *